Selasa, 14 Januari 2020


REGROUPING MENJADI SOLUSI UNTUK MENGEFISIENKAN TENAGA PENDIDIKAN



Pendidikan selalu menjadi harapan utama bagi orang tua untuk anak-anaknya. Semua orang tentu memiliki mimpi untuk meraih cita-citanya yang dimulai dengan pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Pendidikan di Indonesia memang menjadi prioritas yang penting guna membentuk generasi penerus bangsa yang cerdas dan berkarakter. Salah satu wadah untuk membentuk generasi yang cerdas dan berkarakter adalah sekolah atau pendidikan formal. Tak hanya pendidikan formal, jalur pendidikan yang dapat dilalui untuk mengembangkan potensi diri ada pendidikan nonformal dan pendidikan informal. Pendidikan nonformal terdapat pada usia dini atau pendidikan dasar seperti TPA, tempat kursus, bimbingan belajar, dan sebagainya. Sedangkan pendidikan informal merupakan jalur pendidikan dari keluarga dan lingkungan.

Pendidikan di Indonesia dapat dikatakan belum cukup maju. Untuk memajukan pendidikan di Indonesia tentu bukan hanya menjadi tugas guru saja, namun peserta didik juga harus sadar akan pentingnya pendidikan. Peserta didik harus mampu dan mau memahami pelajaran yang diberi, bukan menjadikannya keterpaksaan dan tuntutan untuk menuntaskan pendidikan saja. Mereka harus sadar akan pentingnya dunia pendidikan,  karena pada saat ini pendidikan di Indonesia masih berada di urutan bawah. Berdasarkan kutipan dari Kompaisana, kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia adalah masalah efektivitas, efisiensi, dan standarisasi pengajaran.

Dampak dari rendahnya mutu pendidikan tersebut ialah penutupan sekolah, salah satunya yaitu di kecamatan Sukoharjo. Beberapa sekolah dasar di kecamatan Sukoharjo terpaksa harus ditutup atau digabungkan (regrouping) dengan sekolah lainnya. Penyebabnya, SD tersebut sedikit mendapatkan murid. Jarak yang terlalu berdekatan dengan sekolah lain pun juga menjadi salah satu penyebabnya. Penutupan sekolah ini dianggap lebih mengefisienkan tenaga pendidikan. Pada tahun 2019 kemarin, data sekolah dasar di kecamatan Sukoharjo yang mengalami penutupan ada tiga, diantaranya SD N Bulakrejo 4, SD N Banmati 3, dan SD N Dukuh 2. SD N Bulakrejo 4 lokasinya berada di belakang SD N Bulakrejo 1, SD N Banmati 3 berdekatan dengan SD N Banmati 1, dan SD N Dukuh 2 berada satu pekarangan dengan SD N Dukuh 1.

Guru dan murid yang sekolahnya mengalami penutupan, dipindahkan di berbagai sekolah di sekitarnya. Jadi, guru dan murid tidak terlalu terkena dampak buruk akibat penutupan itu. Penutupan sekolah-sekolah negeri dapat dikaitkan dengan suksesnya KB yang dicanangkan oleh pemerintah. Beberapa masyarakat telah menjalankan program pemerintah untuk mengikuti KB, tak terkecuali masyarakat di kecamatan Sukoharjo. Dengan suksesnya KB, jumlah angka lahir semakin menurun. Oleh karenanya, jumlah peserta didik pun juga menurun terutama di sekolah negeri, sedangkan terdapat banyak bangunan sekolah swasta yang mulai bermunculan. Sehingga di era yang modern ini, orang tua lebih memilih mendaftarkan anak-anaknya di sekolah swasta yang lebih memiliki mutu yang bagus.

Lalu bagaimana dengan nasib sekolah-sekolah negeri di masa mendatang? Tentu saja tidak semua orang tua memiliki kemampuan yang sama. Misalnya masyarakat di pedesaan, sekolah negeri yang masih terjangkau biaya dan jaraknya akan tetap menjadi pilihan. Masyarakat yang kurang mampu akan lebih memilih sekolah dengan biaya yang murah karena yang terpenting anaknya mengenyam bangku pendidikan. Di Sukoharjo misalnya, sekolah negeri bebas dari biaya SPP dan jarak yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki tetap menjadi pilihan bagi masyarakat kurang mampu. Hanya saja sekolah negeri yang memiliki jarak yang sangat dekat dengan sekolah negeri lainnya perlu ditindaklanjuti agar saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tidak terjadi ketidakseimbangan yang drastis.

Senin, 13 Januari 2020





Trend menggunakan skincare telah menyebar di berbagai daerah akhir-akhir ini. Perempuan ataupun laki-laki menggunakan skincare dengan harapan bisa menjaga keindahan kulit wajah dan tubuh mereka. Mengapa mereka tertarik menggunakan skincare? Hal ini selalu berkaitan dengan pandangan masyarakat mengenai standar kecantikan yang diyakini. Orang-orang yang berkulit hitam dan kusam akan merasa dirinya tidak lebih baik dibanding orang yang berkulit lebih putih.
Saat ini, kita sangat mudah mendapatkan berbagai jenis skincare tersebut mulai dari yang berharga murah hingga harga yang sangat mahal. Lalu benarkah semua jenis skincare aman diterima dan digunakan oleh kulit kita?
Era sekarang ini, kita sebagai konsumen yang menggunakan produk skincare harus berhati-hati memilih produk skincare. Kenapa? Karena akibat perkembangan teknologi dan media massa yang sangat luas memberikan peluang besar para produsen nakal untuk mempromosikan produk berbahaya mereka. Misalnya oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dengan sangat mudahnya menawarkan produk mereka di instagram dengan berbagai trik-trik jitu untuk menarik konsumen. Seakan-akan produk yang dijualnya aman dan tidak menimbulkan efek yang berbahaya.
Media sosial dan platform dengan berbagai jenis yang ada bisa mempermudah penyebaran produk-produk berbahaya dengan sangat luas. Batasan-batasan yang hampir tidak ada semakin mempermudah proses promosi tersebut. Lalu, apakah produk yang demikian banyak diminati oleh masyarakat? Kenyataannya,  sangat banyak orang-orang yang tergiur dengan promosi-promosi para produsen atau reseller produk berbahaya tersebut dan tidak sedikit para konsumen yang menggunakan produk tersebut.
Belum lama ini beberapa artis maupun selebgram yang menerima endorse skincare yang bisa dikatakan produk baru. Meskipun telah dipromosikan oleh seorang artis sekalipun, sebagai konsumen kita perlu berhati-hati dalam memilih produk yang aman karena diantara mereka banyak yang hanya sekadar mempromosikan berdasarkan perjanjian kontrak atau bayaran, bukan karena dia  menggunakan produk tersebut. Tasyafarasya sebagai salah satu reviewer make-up yang memiliki banyak pengikut di akun instagram maupun youtubenya, telah banyak membeberkan bagaimana fenomena endorse ini terjadi. Selain itu, ia juga memberikan edukasi kepada pengikutnya untuk tetap berhati-hati memilih produk skincare yang digunakan.
Selain Tasyafarasya, seorang dokter bernama Listya Paramita, Sp. KK melalui akun instagramnya @drmita.spkk juga banyak mengulas tentang efek samping produk-produk yang berbahaya. Efeknya sangat beragam mulai dari stretchmark yang ringan hingga parah, tiroid, kulit mengelupas, dan berbagai efek permanen lainnya. Beliau juga menyampaikan bahwa para konsumen yang menggunakan produk berbaya tersebut telah tergiur dengan promosi yang dilakukan oleh penjual. Selain itu, alasan lain yang menggiurkan konsumen adalah harganya yang bisa dikatakan terjangkau.
Menurut wawancara dengan pengguna skincare yang terbilang bahaya ini, ternyata efek yang ditimbulkan juga kurang baik. Dila(21) mengungkapkan awal ketertarikannya karena harga yang murah. “Awalnya   cuma coba-coba, liat review kok bagus-bagus akhirnya tergiur. Dengan harga yang murah dan hasilnya juga ngga kalah bagus dengan perawatan mahal siapa yang nggak pengen kan. Bener, nyobain sendiri wajah jadi bersih dan glowing tapi setelah berhenti muka jadi gosong kaya terpapar sinar matahari berjam-jam.”
Selain itu, pernyataan yang sama juga diungkapkan oleh Ani (22) “Sebelumnya nggak pernah pakai produk gituan. Liat temen makai kok jadi bagus, kemudian aku mulai pakai. Pertama, kedua nyoba ternyata gatel akhirnya ngga tak lanjutin pemakaiannya. Aku takut kalau kenapa-kenapa”.
Lalu, bagaimana produk skincare yang diperoleh dari dokter? Berdasarkan reviewer dari para pengguna skincare berdasarkan resep dokter, mereka mendapatkan efek yang beragam. Ada pengguna yang mendapatkan efek baik karena memang sesuai atau cocok dengan jenis kulit dan bahan skincare yang aman. Tetapi, ada juga pengguna  yang muncul berbagai efek buruk. Efek buruk yang biasa terjadi diakibatkan dari berbagai faktor seperti jenis kulit yang sensitif atau tidak sesuai. Selain itu, efek buruk bisa timbul akibat dari skincare yang terbuat dari bahan-bahan berbahaya. 
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dengan pengguna skincare dari dokter yaitu Anisa(21), ia berpendapat bahwa skincare dari resep dokter kulit lebih bisa menjamin. “Menurutku bagus sih kita pakai skincare dokter kulit, kulit kita jadi terawat. Tetapi, kita juga harus pintar-pintar memilih tempat konsultasi kita. Misalnya kita perlu memilih dokter yang sudah Sp. KK. Selain itu, kita juga harus coba misal dalam waktu 2-3bulan lah berhenti dulu, ada efek sampingnya enggak kalau enggak ada berarti bagus” ujar Anisa saat ditemui.

Selain Anisa, pendapat lain juga di ungkapkan oleh Rina(22) ia juga setuju dengan pernyataan yang mengungkapkan bahwa skincare dari dokter lebih aman. “kalo menurutku, skincare dokter lebih bisa dijamin keamannya walaupun itu semua tergantung dari kulit masing-masing, kan ada yang cocok ada yang enggak. Tetapi krim dokter lebih sering menimbulkan ketergantungan dibanding skincare yang dijual bebas dipasaran. Dan biasanya krim dokter lebih cepat cara kerjanya dibanding skincare dipasaran.” Ujar Rina saat ditemui.



Salah satu korban ketidakcocokan skincare

Dari dua pendapat sebelumnya, keduanya memiliki hasil yang baik pada kulit mereka. Sedangkan dari hasil wawancara dengan Wahyu(21) ia memberikan pendapat yang berbeda. “Aku punya masalah sama kulit, yaitu jerawat. Normal bagi setiap orang tetapi tetap saja mengurangi rasa kepercayaan diri aku. Berbagai upayaa aku lakukan untuk sedikit mengurangi ketidaksempurnaan di wajah aku ini, mengalami kecocokan dan tidak. Sampai suatu ketika, aku memutuskan untuk datang ke salah satu klinik kecantikan dan selang waktu pemakaian selama kurang lebih 3 tahun muka aku lebih membaik. Kemudian aku memutuskan untuk pindah ke klinik lain, lalu aku mulai melakukan treatment untuk mengurangi masalah dikulit aku. Tetapi, entah kenapa kulit aku malah tambah memburuk. Beralihlah aku mencoba untuk memberli produk yang teman aku tawarkan, dan aku melihat ulasan dari beberapa orang memang terlihat bagus. Tetapi anehnya, pengeluaran racun dari muka aku karena pengobatan terdahulu cukup lama, dan tidak menimbulkan hasil yang baik. Aku berhenti, keputusan terakhir aku, datanglah aku ke dokter spesialis kulit. Disana aku bertahan kurang lebih 1,5 tahun tidak ada hasil yang baik atau yang buruk, aku memutuskan untuk berhenti. Lalu hingga saat ini, aku mencoba memakai skincare basic yang kira-kira memang  dibutuhkan oleh kulit aku.” Ujar Wahyu saat ditemui.
Banyak orang-orang diluar sana yang telah menggunakan berbagai macam produk skincare, dan hasilnya tergantung dengan jenis kulit yang dimiliki pengguna. Skincare yang berkualitas dan aman tentu saja tidak akan memberikan efek samping yang mengerikan seperti timbulnya bruntusan, kulit terbakar, berjerawat, bahkan kanker kulit, dan banyak efek lainnya.


Selasa, 29 Oktober 2019

RESENSI (BUKU NON FIKSI)



RESENSI
(NOVEL FIKSI)



 



Judul               : Pada Senja Yang Membawamu Pergi

Penulis             : Boy Candra

Ukuran            : 13 X 19 Cm

Genre              : Romance
Jumlah Hal.     : 256 BW
Bahan Isi         : Book Paper 57,5
Bahan Cover   : Ivory 230
Jilid                 : Soft Cover
ISBN               : 9789797808648
Tahun Terbit    : 2016
Harga              : Rp65.000



Sinopsis Buku:
Apakah kau ingat saat kita berjanji untuk saling membahagiakan? Katamu, setiap perasaan yang tumbuh adalah sebuah alasan. Alasan bahwa hati patut dipertahankan. Namun, cinta saja belum cukup menyatukan mimpi yang berbeda di antara kita. Dan, menepati janji ternyata tak semudah mengucapkannya.
Apakah kau juga tahu bahwa kenangan bersamamu selalu muncul tiba-tiba? Tak ada satu perasaan pun yang mempu kusembunyikan ketika mengingatmu. Namun, aku sadar. Harapan-harapan yang dulu sempat memudar, harus kubangun lagi dan kumulai. Bukankah tak salah bila aku ingin mengulang rasa yang dulu pernah ada? Meski kitahu, rasa itu tak akan benar-benar sama.
Karena, cinta bukan tentang bagaimana rasa itu jatuh, melainkan bagaimana ia tetap bisa hidup di dada yang rapuh.

Sinopsis Saya :

Gian, yang biasa dipanggil gie adalah seorang mahasiswa Administasi Pendidikan  di salah satu Universitas di Padang, Sumatra Barat bersama ketiga temannya yakni putri, andre dan randi. Suatu hari, gie yang sedang dalam perjalanan mendapat pesan singkat dari kaila yang sedang menunggu kedatang gie untuk merayakan hari jadi hubungan mereka, sayangnya pada hari itu gie tidak bias datang tepat waktu karena terhalang oleh lebatnya hujan.

Gie berusaha menjelaskan apa yang terjadi kepada kaila namun kaila merasa kesalahan gie sudah keteralaluan yang menyebabkan hubungan mereka berdua menjadi renggang. Selang beberapa hari kaila pun mau menemui gie, namun pada harijuga kaila memberanikan diri untuk mengakhiri hubuungannya dengan gie karena perbedaan latar belakang keluarga mereka. Gie berasal dari keluarga sederhana ayahnya hanya seorang guru Bahasa Indonesia di kampong sedangkan ayah kaila adalah salah satu pengusaha sukses di kota Padang.

Setelah perpisahannya dengan kaila, gie memutuskan focus pada kuliahnya dan mengerjakan skripsi seperti yang diinginkan ayahnya untuk menyelesaikan kuliahnya tepat waktu. Selang beberapa bulan, di Pemandian Tirta Alami – Sumatra Barat. Saat gie, putri, andre dan randi liburan bersama disanalah gie tidak sengaja bertemu dengan aira seorang gadis cantik. Sesampainya dikos gie terus saja kepikiran dengan gadis itu dan bertanya-tanya siapa nama gadis yang di temuinya tadi.

Haripun berganti, putri sudah wisuda mendahului ketiga sahabatnya. Di acara wisuda putri sekali lagi secara tidak sengaja gie bertemu dengan aira gadis yang ia temui di Pemandia Tirta Alami, gie memberanikan diri mengajak aira ngobrol dan memintai kontak nya. Mereka semakin hari semakin dekat hingga pada suatu hari aira mengajak gie pergi di pagi buta, mereka berdua pergi ke pasar, makan bersama, pergi ke Family Karaoke disiang hari dan ke Panorama Sitinjau Lauik pukul 16:58 WIB dengan suasana senja yang indah mereka berbincang-bincang hingga tak terasa pukul tujuh malam waktuya pulang namun, aira meminta waktu tujuh menit lagi untuk menatap lampu kota yang terlihat indah dari sana.

Semenjak hari itu aira tidak ada kabar dan tida bisa dihubungi hingga gie mencoba mendatangi rumah nenek aira. Namun, aira tidak ada neneknya yang keluar dengan membawa selembar amplop titipan dari aira. Gie pun penasaran dengan isi amplop tersebut dan membukanya dan tertulis bahwa intinya aira sudah pergi ke Tohoku University Japan untuk melanjutkan sekolahnya aira juga mengatakan bahwa ia jatuh hati pada gie. Gie pun merasa sakit yang teramat dalam ia pun segera menelfon ibundanya di kampong dan menceritakan semuanya.

Tepat 5 bulan berlalu setelah kepergian aira, gie wisuda. Akhirnya gie menepati janji nya pada ayahnya dulu untuk wisuda tepat waktu. Dimalam harinya gie dan ketiga sahabatnya menghabiskan waktu bersama setelah kepergian putri ke Jakarta dan disusul andre untuk mencari pekerjaan.

Setelah wisuda, Gie memutuskan untuk mengelola bimbingan belajar yang dibuat ayahnya dulu. Tiba-tiba dering telepondari putri di Jakarta yang memberi kabar bahwa putri dan andre akan segera menikah sedangkan randi memutuskan untuk menikahi janda anak satu.

Sudah tiga tahun sejak kepergian aira, gie memutuskan untuk mengunjungi aira ke Jepang. Merek menghabiskan waktu bersua selama 3 hari di Jepang setelah itu gie harus kembali lagi ke Indonesia dan mengelola bimbel. Gie meninggakan Tokyo saat senja mulai jatuh disana ia memutuskan untuk menunggu aira pulang satu tahun lagi dan untuk pertama kalinya aira berkata “aku mencintaimu” langsung dari bibirnya dihadapan gie. Gerimis yang membasahi pipi aira semakin deras namun, gie tetap menguatkan hati untuk meninggalkan aira.


Kelebihan Novel :

1.      Bahasanya sederhana dan mudah dipahami.

2.      Keterangan latar suasana, tempat maupun waktu jelas.

3.      Covernya menarik, unik.

4.      Dapat menjadi pelajaran karena menceritakan masa kuliah.


Kelemahan Novel :

1.      Alur ceritanya mudah ditebak.

2.      Harganya mahal.





Minggu, 14 April 2019

DARI HOBBY MENJADI BISNIS LAUNDRY


Seorang wanita bernama Meta Kurnia Dewi Fatimah berusia 25 tahun. Ia menjadikan hobinya untuk membangun sebuah bisnis. Bermula dari hobinya mencuci baju, ia berfikiran untuk membuka usaha laundry. Ia merintis usahanya dari nol dengan membuka usahanya di rumah dengan fasilitas yang seadanya. Dengan bermodalkan kepercayaan dan tekad yang kuat ia yakin bahwa usahanya akan berkembang. Tahun 2015 merupakan tahun awal ia mulai merintis usaha laundry ini. Sebelum ia memutuskan untuk membuka bisnis ini, terlebih dahulu ia belajar laundry di tempat orang lain. Kemudian, dirasa sudah memahami dan mampu untuk mendirikan laundry sendiri ia memutuskan untuk berhenti dari tempat ia belajar dan mulai merintis usahanya.

            Untuk harga yang ia berikan standar dengan harga-harga di tempat lainnya. “Untuk harga perkilo pada awal merintis usaha laundry ini untuk cuci setrika itu tiga ribu rupiah, dan untuk cuci saja atau setrika saja itu dua ribu rupiah” tuturnya saat diwawancarai Minggu (14/4/2019). Dengan bertambahnya tahun dan kenaikan listrik harga pun juga ikut naik “Kenaikan pertama untuk cuci setrika menjadi tiga ribu lima ratus rupiah, untuk setrika saja dan cuci saja dua ribu lima ratus rupiah. Kenaikan ini karena terjadi kenaikan pajak listrik dan akhirnya memutuskan untuk naikkan harganya juga” tambah wanita yang telah menekuni usahanya 4 tahun ini. “Dan sekarang menjadi empat ribu rupiah untuk cuci setrika, dan untuk setrika saja atau cuci saja dibandrol harga tiga ribu rupiah”, tutupnya.

            Omset perbulan yang diperoleh Meta pada saat ini sudah memasuki Rp. 2.000.000,- sampai Rp. 2.500.000,- perbulannya. Omset ini sudah mengalami kenaikan dibanding pertama kali membuka usaha laundry ini yang pada saat itu hanya memperoleh omset Rp. 300.000,- perbulannya. “Awal buka laundry sih omsetnya udah tiga ratus ribu ya kemudian naik-naik-naik sampai sekarang ini menjadi dua juta sampai dua juta lima ratus tiap bulannya”, jelasnya. Menurutnya omset ini sudah mencapai targetnya, karena hal yang terpenting itu pengeluarannya lebih kecil (gaji karyawan, sabun, pewangi, dll) daripada pendapatan sehingga mendapatkan laba.

            Sekarang, laundry yang diberi nama “Metta­_Laundry” ini sudah memiliki cabang yang mulai beroperasi pada awal bulan di tahun 2019 ini. “Sekarang punya laundry di dua tempat, yang satunya di rumah yang satunya buka cabang di Solo Baru lebih tepatnya di Bacem, daerah Grogol”, paparnya. Untuk laundry yang bertempat di rumah memiliki satu karyawan dengan satu mesin cuci dan satu setrika biasa. Kemudian, untuk di cabangnya sendiri memiliki dua karyawan dengan dua alat mesin cuci dan  dua setrika. “Disini belum memakai setrika uap sih jadi masih pakai setrika biasa karena belum bisa untuk membelinya, jadi kalau untuk dry clean aku masih lempar soalnya kita emang belum punya alatnya giu”, jelasnya.

            Setiap usaha pastinya mengalami jatuh bangun. Meta menjelaskan untuk jatuh bangun yang dialaminya yaitu dituntut untuk terus teliti karena memang ketelitian sangat penting untuk mengurangi angka dalam baju tertukar. Namun, mereka mempunyai prinsip ekslusif yaitu satu customer satu pencucian. “Jatuh bangunnya ya kita dituntut untuk teliti ya, karena kan customer banyak jadi lebih rentan untuk baju tertukar ataupun hal-hal lain dan kita disini mempunyai prinsip eksklusif yaitu satu customer kita cuci satu kali walaupun hanya satu atau dua kilo, jadi tidak dicampur dengan baju customer yang lain”, terangnya.

            Ia pun pernah mengalami kerugian ketika ada barang pelanggan yang hilang. Di Metta Laundry ini, apabila terdapat baju yang rusak akibat dari proses laundry maka akan diganti 10% dari harga baju tersebut dan untuk kehilangan akan diganti 100% harga barang tersebut. “Ya jadi pernah sekali mengalami kerugian itu ada customer yang bilang kalau kain bali dan sarung bantalnya nggak ada, udah kita cari juga nggak ketemu. Ya jadi kita mengganti barang itu dengan uang senilai harga barangnya”, jelas wanita berusia 25 tahun tersebut.

            Di akhir katanya, ia berpesan kepada pemula atau yang sedang merintis sebuah usaha untuk yang pertama harus bersabar, apalagi yang memulainya dari nol. Dimulai menyiapkan modal, beli keperluan apapun dari kantong sendiri. Yang kedua harus telaten, dan yang ketiga harus terus mau untuk belajar dan jangan monoton. Dalam berbisnis kita harus terus mencari inovasi-inovasi, menyebar brosur atau membuat MMT, dan terus berusaha dalam berbisnis. “Jantung dari sebuah usaha itu ya penjualan itu, jadi kalau pemasarannya nol ya usaha kita tidak akan berjalan jadi kita tu haru terjunlah sebar brosur atau apalah, kita harus cari inovasi baru yang lebih efektif dan harus semangat, sabar, telaten dalam menjalani usaha karena kan teknologi semakin pesat. Sudah ada youtube kita bisa belajar tuh dari situ gimana sih ngembangin usaha ini gitu, pokoknya banyak belajarlah ya” tutupnya.

SALA HATEDU 2019


SALA HATEDU 2019

Dunia perteateran kembali menampilkan pertunjukan teater dan pembacaan karya sastra. Hal ini guna memperingati Hari Teater Dunia yang jatuh pada tanggal 27 Maret. Di Solo, peringatan Hari Teater Dunia (HATEDU) sudah dilaksanakan untuk yang ke tujuh kalinya. Acara ini akan dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut pada hari Minggu, 21 April 2019 sampai dengan hari Selasa, 23 April 2019 yang bertempat di Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta.  "Dilaksanakan bulan April karena menyesuaikan dengan jadwal yang lain, dan ketika hari itu banyak banget yang mengadakan, jadi bentur-bentur (acaranya)" tutur Yogi Swara selaku panitia acara tersebut. Selain untuk memperingati Hari Teater Dunia, Yogi Swara menambahkan, bahwa acara ini dilaksanakan juga untuk menjalin silaturahmi antara teater-teater di seluruh Indonesia.

Perayaan yang mengangkut tema Membaca Milenial ini akan ditampilkan oleh puluhan kelompok teater di Indonesia, diantaranya kelompok teater dari Surabaya, Wonosobo, Lamongan, Surakarta, Jogjakarta, Kendal, Jakarta, Salatiga, dan Kepulauan Riau. Solo merupakan salah satu kota yang turut merayakan Hari Teater Dunia, “Acara ini di beberapa kota ada, tetapi ini solo juga selalu melaksanakan” jelas Yogi, Jumat (12/4/2019). Selain itu, yang menjadikan acara ini lebih menarik yaitu partisipasi dari negara lain seperti Malaysia dan Singapura yang terdiri dari empat kelompok, diantaranya yaitu Sekutu Ghuraba (Malaysia), Mawar Zainal Ariffin, Tepak Tellaz (Malaysia), Teater Singa Muntah (Singapura), dan Teater FiTa (Malaysia). “Acara ini tidak selalu dihadiri oleh kelompok teater dari luar negeri, tetapi tahun ini kebetulan banyak” tambahnya.

Selain teater, terdapat sajian menarik lainnya diantaranya yaitu lomba baca puisi, lomba pantomime, dan whorkshop keaktoran dan penyutradaraan. Untuk lomba baca puisi sendiri diperuntukkan siswa tingkat SMA/SMK sederajat se-Solo Raya yang dilaksanakan pada tanggal 14 April 2019 dan bertempat di Rumah Banjarsari. Sedangkan lomba pantomime diperuntukkan siswa tingkat Sekolah Dasar se-Solo Raya yang dilaksanakan pada tanggal 14 April 2019 yang bertempat di Rumah Banjarsari. Adapun workshop keaktoran dan penyutradaraan akan dilaksanakan pada tanggal 21 dan 22 April 2019 yang bertempat di Teater Arena Gedung Moertidjono Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta dengan peserta terbatas 50 orang. Acara ini tidak dipungut biaya sama sekali alias gratis, dan pemenang akan mendapatkan piala, uang pembinaan, dan sertifikat.

Saat ditanya mengenai harapan untuk perayaan ini dan acara selanjurnya, “Semoga silaturahmi antar teater di Indonesia dan dunia semakin terjalin”, pungkas Yogi.





Jumat, 29 Maret 2019

Observasi Sebuah Objek

Sebuah ruangan yang sangat penting yang terdapat di dalam rumah. Batu bata tersusun membentuk sebuah ruangan yang berbentuk kotak maupun panjang. Tempat yang didesain semenarik mungkin agar terasa lebih nyaman. Cat dan keramik ditambahkan untuk menjadikannya lebih menarik. Ruangan yang biasa disebut tempat privasi. Terdapat banyak barang-barang pribadi. Warna cat yang melekat di dinding menjadikannya semakin indah. Tempelan-tempelan yang menggantung menambahkan suasana kehangatan. Foto-foto terpajang di dinding menjadi sebuah kenangan. Meja belajar tampak berada di pojok ruangan yang diatasnya tersusun buku-buku. Keranjang panjang yang diatasnya ditambahkan kasur, bantal, guling, dan selimut. Meja rias berada tepat di samping keranjang panjang. Boneka-boneka tersusun rapi di atas keranjang panjang. Lampu gemerlapan ketika kesunyian malam telah tiba menambahkan efek kehangatan dan ketenangan.

Pada setiap rumah selalu terdapat ruangan ini. Barang-barang pribadi pun masuk ke dalam ruangan tersebut. Biasanya orang-orang menjadikannya tempat favorit ketika berada di rumah. Seseorang akan menjadikan ruangan ini semenarik mungkin sesuai kepribadiannya. Sebuah tempat yang sangat nyaman untuk menyendiri ketika sedang dalam kondisi yang kurang baik. Tempat ternyaman untuk belajar selain di sekolah. Tempat ternyaman untuk istirahat dari rasa lelah dan letih setelah beraktifitas, dan juga tempat untuk mendapatkan inspirasi-inspirasi baru. Sejuta cerita berada di dalamnya, bahkan tempat ini menjadi saksi atas keseharian seseorang.

Jumat, 08 Maret 2019

Perjalanan Karir Harmoko

Film pendek yang berjudul "HARI-HARI OMONG HARMOKO" yang diunggah oleh Joglo TV pada tanggal 7 Februari 2013 menceritakan tentang perjalanan hidup Harmoko saat masih menjadi menteri penerangan. Terdapat empat narasumber dalam film pendek ini. Diantaranya yaitu: 

1. Eko Maryadi alias item
Profesinya wartawan lepas dan pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Sebuah organisasi wartawan yang didirikan pada Agustus 1994 setelah departemen penerangan memberedel majalah tempo, majalah editor, dan tabloid detik. Bersama ketiga pekerja media yang lain item pernah divonis 3 tahun penjara karena menerbitkan majalah independen tanpa izin departemen penerangan.
2. Bondan Winarno
Sekarang orang-orang mengenalnya sebagai pembawa acara program kuliner di televisi. Tapi pada tahun 1997, Bondan adalah wartawan yang membongkar skandal penipuan sebuah tambang emas asal Kanada di Kalimantan Timur. Ketika majalah tempo diberedel pemerintah karena memberitakan impor kapal perang bekas dari Jerman Timur bondan jadi salah korbannya.
3. Aristides Katoppo
Ia pernah kehilangan korannya, pada tahun 1986 departemen penerangan menutup sinar harapan yang terbit sejak tahun 1961 karena memberitakan bisnis keluarga cendana. Seperti halnya majalah tempo, koran sore sinar harapan bisa terbit kembali setelah rezim orde baru tumbang.
4. Akhmad Kusaeni
Pada tahun 1992 di usia 25 tahun Akhmad Kusaeni ditugaskan kantor berita antara untuk meliput kegiatan menteri penerangan harmoko yang juga baru diangkat sebagai ketua umum golkar. Setiap sabtu dan minggu, selama 2.5 tahun Kusaeni mengikuti Harmoko keliling indonesia untuk melakukan apa yang ketika itu disebut temukadan.

     Harmoko dizamannya menjadi bintang media. Setiap hari koran dan televisi memberitakan aktivitasnya baik sebagai menteri penerangan maupun ketua umum golkar. Harmoko menjadi menteri penerangan 3 periode antara 1983 hingga 1997. Di tangannya lah surat izin usaha penerbitan pers atau siupp dikeluarkan atau dibatalkan. Inilah yang menentukan hidup matinya media masa kala itu.
     Tercatat setidaknya ada 13 media masa yang dicabut surat izinnya pada periode 14 lalu kepemimpinan Harmoko di departemen peneranhan.
Seusai pemilihan umum 1992 Soeharto menunjuk Harmoko sebagai orang sipil pertama yang menjadi ketua umum Golkar. Aksi panggungnya menyumbang peningkatan suara golkar dari 60% pada pemilu 1992 menjadi 75% di tahun 1997 tentu saja dengan banyak catatan praktik modelisasi politik di masa itu.
     Dari hasil keliling Indonesia inilah Harmoko meyakinkan Soeharto bahwa rakyat masih menginginkannya sebagai presiden RI untuk periode yg ke Kelompencapir atau kelompok pendengar, pembaca, dan pirsawan adalah kompetisi adu pengetahuan tentang pertanian, perikanan, peternakan, atau program pembangunan yang populer di era 1980 hingga 1990an. Dan Harmoko adalah ikon dalam acara² ini. Meski loyalitasnya sebagai penjaga pers rezim orde baru tidak diragukan, pada pertengahan tahun 1997 Soeharto tiba² mengakhiri 3 periode kekuasaan Harmoko di departemen penerangan. Ia menduduki jabatan sebagai menteri negara urusan khusus. Sebuah kementrian baru yang tak jelas benar apa tugas dan fungsinya. Namun tak lama kemudian, di akhir 1997 Soeharto menunjuk bekas pembantunya yang loyal itu sebagai dewan perwakilan rakyat yang menjadikannya setara dengan presiden sebagai lembaga tinggi negara, setidaknya secara teori.
     Bersama runtuhnya masa rezim baru itu, Harmoko yang pernah sekolah di Solo menghilang dari pandangan publik. Hingga suatu hari ia mengizinkan tim Jogja TV untuk meliput kesehariannya dan bercengkrama mengenai permasalahan pada zamannya dahulu.



https://youtu.be/ih8vcQWrz1Q