Jumat, 08 Maret 2019

Perjalanan Karir Harmoko

Film pendek yang berjudul "HARI-HARI OMONG HARMOKO" yang diunggah oleh Joglo TV pada tanggal 7 Februari 2013 menceritakan tentang perjalanan hidup Harmoko saat masih menjadi menteri penerangan. Terdapat empat narasumber dalam film pendek ini. Diantaranya yaitu: 

1. Eko Maryadi alias item
Profesinya wartawan lepas dan pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Sebuah organisasi wartawan yang didirikan pada Agustus 1994 setelah departemen penerangan memberedel majalah tempo, majalah editor, dan tabloid detik. Bersama ketiga pekerja media yang lain item pernah divonis 3 tahun penjara karena menerbitkan majalah independen tanpa izin departemen penerangan.
2. Bondan Winarno
Sekarang orang-orang mengenalnya sebagai pembawa acara program kuliner di televisi. Tapi pada tahun 1997, Bondan adalah wartawan yang membongkar skandal penipuan sebuah tambang emas asal Kanada di Kalimantan Timur. Ketika majalah tempo diberedel pemerintah karena memberitakan impor kapal perang bekas dari Jerman Timur bondan jadi salah korbannya.
3. Aristides Katoppo
Ia pernah kehilangan korannya, pada tahun 1986 departemen penerangan menutup sinar harapan yang terbit sejak tahun 1961 karena memberitakan bisnis keluarga cendana. Seperti halnya majalah tempo, koran sore sinar harapan bisa terbit kembali setelah rezim orde baru tumbang.
4. Akhmad Kusaeni
Pada tahun 1992 di usia 25 tahun Akhmad Kusaeni ditugaskan kantor berita antara untuk meliput kegiatan menteri penerangan harmoko yang juga baru diangkat sebagai ketua umum golkar. Setiap sabtu dan minggu, selama 2.5 tahun Kusaeni mengikuti Harmoko keliling indonesia untuk melakukan apa yang ketika itu disebut temukadan.

     Harmoko dizamannya menjadi bintang media. Setiap hari koran dan televisi memberitakan aktivitasnya baik sebagai menteri penerangan maupun ketua umum golkar. Harmoko menjadi menteri penerangan 3 periode antara 1983 hingga 1997. Di tangannya lah surat izin usaha penerbitan pers atau siupp dikeluarkan atau dibatalkan. Inilah yang menentukan hidup matinya media masa kala itu.
     Tercatat setidaknya ada 13 media masa yang dicabut surat izinnya pada periode 14 lalu kepemimpinan Harmoko di departemen peneranhan.
Seusai pemilihan umum 1992 Soeharto menunjuk Harmoko sebagai orang sipil pertama yang menjadi ketua umum Golkar. Aksi panggungnya menyumbang peningkatan suara golkar dari 60% pada pemilu 1992 menjadi 75% di tahun 1997 tentu saja dengan banyak catatan praktik modelisasi politik di masa itu.
     Dari hasil keliling Indonesia inilah Harmoko meyakinkan Soeharto bahwa rakyat masih menginginkannya sebagai presiden RI untuk periode yg ke Kelompencapir atau kelompok pendengar, pembaca, dan pirsawan adalah kompetisi adu pengetahuan tentang pertanian, perikanan, peternakan, atau program pembangunan yang populer di era 1980 hingga 1990an. Dan Harmoko adalah ikon dalam acara² ini. Meski loyalitasnya sebagai penjaga pers rezim orde baru tidak diragukan, pada pertengahan tahun 1997 Soeharto tiba² mengakhiri 3 periode kekuasaan Harmoko di departemen penerangan. Ia menduduki jabatan sebagai menteri negara urusan khusus. Sebuah kementrian baru yang tak jelas benar apa tugas dan fungsinya. Namun tak lama kemudian, di akhir 1997 Soeharto menunjuk bekas pembantunya yang loyal itu sebagai dewan perwakilan rakyat yang menjadikannya setara dengan presiden sebagai lembaga tinggi negara, setidaknya secara teori.
     Bersama runtuhnya masa rezim baru itu, Harmoko yang pernah sekolah di Solo menghilang dari pandangan publik. Hingga suatu hari ia mengizinkan tim Jogja TV untuk meliput kesehariannya dan bercengkrama mengenai permasalahan pada zamannya dahulu.



https://youtu.be/ih8vcQWrz1Q 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar