Seorang wanita bernama Meta Kurnia Dewi Fatimah
berusia 25 tahun. Ia menjadikan hobinya untuk membangun sebuah bisnis. Bermula
dari hobinya mencuci baju, ia berfikiran untuk membuka usaha laundry. Ia merintis usahanya dari nol
dengan membuka usahanya di rumah dengan fasilitas yang seadanya. Dengan
bermodalkan kepercayaan dan tekad yang kuat ia yakin bahwa usahanya akan
berkembang. Tahun 2015 merupakan tahun awal ia mulai merintis usaha laundry ini. Sebelum ia memutuskan untuk
membuka bisnis ini, terlebih dahulu ia belajar laundry di tempat orang lain. Kemudian, dirasa sudah memahami dan
mampu untuk mendirikan laundry sendiri
ia memutuskan untuk berhenti dari tempat ia belajar dan mulai merintis
usahanya.
Untuk harga yang ia berikan standar
dengan harga-harga di tempat lainnya. “Untuk harga perkilo pada awal merintis
usaha laundry ini untuk cuci setrika
itu tiga ribu rupiah, dan untuk cuci saja atau setrika saja itu dua ribu rupiah”
tuturnya saat diwawancarai Minggu (14/4/2019). Dengan bertambahnya tahun dan
kenaikan listrik harga pun juga ikut naik “Kenaikan pertama untuk cuci setrika
menjadi tiga ribu lima ratus rupiah, untuk setrika saja dan cuci saja dua ribu
lima ratus rupiah. Kenaikan ini karena terjadi kenaikan pajak listrik dan
akhirnya memutuskan untuk naikkan harganya juga” tambah wanita yang telah
menekuni usahanya 4 tahun ini. “Dan sekarang menjadi empat ribu rupiah untuk
cuci setrika, dan untuk setrika saja atau cuci saja dibandrol harga tiga ribu
rupiah”, tutupnya.
Omset perbulan yang diperoleh Meta
pada saat ini sudah memasuki Rp. 2.000.000,- sampai Rp. 2.500.000,- perbulannya.
Omset ini sudah mengalami kenaikan dibanding pertama kali membuka usaha laundry ini yang pada saat itu hanya memperoleh
omset Rp. 300.000,- perbulannya. “Awal buka laundry
sih omsetnya udah tiga ratus ribu ya kemudian naik-naik-naik sampai sekarang
ini menjadi dua juta sampai dua juta lima ratus tiap bulannya”, jelasnya. Menurutnya
omset ini sudah mencapai targetnya, karena hal yang terpenting itu
pengeluarannya lebih kecil (gaji karyawan, sabun, pewangi, dll) daripada
pendapatan sehingga mendapatkan laba.
Sekarang, laundry yang diberi nama “Metta_Laundry” ini sudah memiliki cabang
yang mulai beroperasi pada awal bulan di tahun 2019 ini. “Sekarang punya laundry di dua tempat, yang satunya di
rumah yang satunya buka cabang di Solo Baru lebih tepatnya di Bacem, daerah Grogol”,
paparnya. Untuk laundry yang bertempat
di rumah memiliki satu karyawan dengan satu mesin cuci dan satu setrika biasa. Kemudian,
untuk di cabangnya sendiri memiliki dua karyawan dengan dua alat mesin cuci dan
dua setrika. “Disini belum memakai
setrika uap sih jadi masih pakai setrika biasa karena belum bisa untuk
membelinya, jadi kalau untuk dry clean
aku masih lempar soalnya kita emang belum punya alatnya giu”, jelasnya.
Setiap usaha pastinya mengalami
jatuh bangun. Meta menjelaskan untuk jatuh bangun yang dialaminya yaitu
dituntut untuk terus teliti karena memang ketelitian sangat penting untuk
mengurangi angka dalam baju tertukar. Namun, mereka mempunyai prinsip ekslusif
yaitu satu customer satu pencucian. “Jatuh bangunnya ya kita dituntut untuk
teliti ya, karena kan customer banyak jadi lebih rentan untuk baju tertukar
ataupun hal-hal lain dan kita disini mempunyai prinsip eksklusif yaitu satu
customer kita cuci satu kali walaupun hanya satu atau dua kilo, jadi tidak
dicampur dengan baju customer yang lain”, terangnya.
Ia pun pernah mengalami kerugian
ketika ada barang pelanggan yang hilang. Di Metta Laundry ini, apabila terdapat
baju yang rusak akibat dari proses laundry
maka akan diganti 10% dari harga baju tersebut dan untuk kehilangan akan
diganti 100% harga barang tersebut. “Ya jadi pernah sekali mengalami kerugian
itu ada customer yang bilang kalau kain bali dan sarung bantalnya nggak ada,
udah kita cari juga nggak ketemu. Ya jadi kita mengganti barang itu dengan uang
senilai harga barangnya”, jelas wanita berusia 25 tahun tersebut.
Di akhir katanya, ia berpesan kepada
pemula atau yang sedang merintis sebuah usaha untuk yang pertama harus bersabar,
apalagi yang memulainya dari nol. Dimulai menyiapkan modal, beli keperluan
apapun dari kantong sendiri. Yang kedua harus telaten, dan yang ketiga harus
terus mau untuk belajar dan jangan monoton. Dalam berbisnis kita harus terus
mencari inovasi-inovasi, menyebar brosur atau membuat MMT, dan terus berusaha
dalam berbisnis. “Jantung dari sebuah usaha itu ya penjualan itu, jadi kalau
pemasarannya nol ya usaha kita tidak akan berjalan jadi kita tu haru terjunlah
sebar brosur atau apalah, kita harus cari inovasi baru yang lebih efektif dan
harus semangat, sabar, telaten dalam menjalani usaha karena kan teknologi
semakin pesat. Sudah ada youtube kita bisa belajar tuh dari situ gimana sih
ngembangin usaha ini gitu, pokoknya banyak belajarlah ya” tutupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar