Minggu, 14 April 2019

DARI HOBBY MENJADI BISNIS LAUNDRY


Seorang wanita bernama Meta Kurnia Dewi Fatimah berusia 25 tahun. Ia menjadikan hobinya untuk membangun sebuah bisnis. Bermula dari hobinya mencuci baju, ia berfikiran untuk membuka usaha laundry. Ia merintis usahanya dari nol dengan membuka usahanya di rumah dengan fasilitas yang seadanya. Dengan bermodalkan kepercayaan dan tekad yang kuat ia yakin bahwa usahanya akan berkembang. Tahun 2015 merupakan tahun awal ia mulai merintis usaha laundry ini. Sebelum ia memutuskan untuk membuka bisnis ini, terlebih dahulu ia belajar laundry di tempat orang lain. Kemudian, dirasa sudah memahami dan mampu untuk mendirikan laundry sendiri ia memutuskan untuk berhenti dari tempat ia belajar dan mulai merintis usahanya.

            Untuk harga yang ia berikan standar dengan harga-harga di tempat lainnya. “Untuk harga perkilo pada awal merintis usaha laundry ini untuk cuci setrika itu tiga ribu rupiah, dan untuk cuci saja atau setrika saja itu dua ribu rupiah” tuturnya saat diwawancarai Minggu (14/4/2019). Dengan bertambahnya tahun dan kenaikan listrik harga pun juga ikut naik “Kenaikan pertama untuk cuci setrika menjadi tiga ribu lima ratus rupiah, untuk setrika saja dan cuci saja dua ribu lima ratus rupiah. Kenaikan ini karena terjadi kenaikan pajak listrik dan akhirnya memutuskan untuk naikkan harganya juga” tambah wanita yang telah menekuni usahanya 4 tahun ini. “Dan sekarang menjadi empat ribu rupiah untuk cuci setrika, dan untuk setrika saja atau cuci saja dibandrol harga tiga ribu rupiah”, tutupnya.

            Omset perbulan yang diperoleh Meta pada saat ini sudah memasuki Rp. 2.000.000,- sampai Rp. 2.500.000,- perbulannya. Omset ini sudah mengalami kenaikan dibanding pertama kali membuka usaha laundry ini yang pada saat itu hanya memperoleh omset Rp. 300.000,- perbulannya. “Awal buka laundry sih omsetnya udah tiga ratus ribu ya kemudian naik-naik-naik sampai sekarang ini menjadi dua juta sampai dua juta lima ratus tiap bulannya”, jelasnya. Menurutnya omset ini sudah mencapai targetnya, karena hal yang terpenting itu pengeluarannya lebih kecil (gaji karyawan, sabun, pewangi, dll) daripada pendapatan sehingga mendapatkan laba.

            Sekarang, laundry yang diberi nama “Metta­_Laundry” ini sudah memiliki cabang yang mulai beroperasi pada awal bulan di tahun 2019 ini. “Sekarang punya laundry di dua tempat, yang satunya di rumah yang satunya buka cabang di Solo Baru lebih tepatnya di Bacem, daerah Grogol”, paparnya. Untuk laundry yang bertempat di rumah memiliki satu karyawan dengan satu mesin cuci dan satu setrika biasa. Kemudian, untuk di cabangnya sendiri memiliki dua karyawan dengan dua alat mesin cuci dan  dua setrika. “Disini belum memakai setrika uap sih jadi masih pakai setrika biasa karena belum bisa untuk membelinya, jadi kalau untuk dry clean aku masih lempar soalnya kita emang belum punya alatnya giu”, jelasnya.

            Setiap usaha pastinya mengalami jatuh bangun. Meta menjelaskan untuk jatuh bangun yang dialaminya yaitu dituntut untuk terus teliti karena memang ketelitian sangat penting untuk mengurangi angka dalam baju tertukar. Namun, mereka mempunyai prinsip ekslusif yaitu satu customer satu pencucian. “Jatuh bangunnya ya kita dituntut untuk teliti ya, karena kan customer banyak jadi lebih rentan untuk baju tertukar ataupun hal-hal lain dan kita disini mempunyai prinsip eksklusif yaitu satu customer kita cuci satu kali walaupun hanya satu atau dua kilo, jadi tidak dicampur dengan baju customer yang lain”, terangnya.

            Ia pun pernah mengalami kerugian ketika ada barang pelanggan yang hilang. Di Metta Laundry ini, apabila terdapat baju yang rusak akibat dari proses laundry maka akan diganti 10% dari harga baju tersebut dan untuk kehilangan akan diganti 100% harga barang tersebut. “Ya jadi pernah sekali mengalami kerugian itu ada customer yang bilang kalau kain bali dan sarung bantalnya nggak ada, udah kita cari juga nggak ketemu. Ya jadi kita mengganti barang itu dengan uang senilai harga barangnya”, jelas wanita berusia 25 tahun tersebut.

            Di akhir katanya, ia berpesan kepada pemula atau yang sedang merintis sebuah usaha untuk yang pertama harus bersabar, apalagi yang memulainya dari nol. Dimulai menyiapkan modal, beli keperluan apapun dari kantong sendiri. Yang kedua harus telaten, dan yang ketiga harus terus mau untuk belajar dan jangan monoton. Dalam berbisnis kita harus terus mencari inovasi-inovasi, menyebar brosur atau membuat MMT, dan terus berusaha dalam berbisnis. “Jantung dari sebuah usaha itu ya penjualan itu, jadi kalau pemasarannya nol ya usaha kita tidak akan berjalan jadi kita tu haru terjunlah sebar brosur atau apalah, kita harus cari inovasi baru yang lebih efektif dan harus semangat, sabar, telaten dalam menjalani usaha karena kan teknologi semakin pesat. Sudah ada youtube kita bisa belajar tuh dari situ gimana sih ngembangin usaha ini gitu, pokoknya banyak belajarlah ya” tutupnya.

SALA HATEDU 2019


SALA HATEDU 2019

Dunia perteateran kembali menampilkan pertunjukan teater dan pembacaan karya sastra. Hal ini guna memperingati Hari Teater Dunia yang jatuh pada tanggal 27 Maret. Di Solo, peringatan Hari Teater Dunia (HATEDU) sudah dilaksanakan untuk yang ke tujuh kalinya. Acara ini akan dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut pada hari Minggu, 21 April 2019 sampai dengan hari Selasa, 23 April 2019 yang bertempat di Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta.  "Dilaksanakan bulan April karena menyesuaikan dengan jadwal yang lain, dan ketika hari itu banyak banget yang mengadakan, jadi bentur-bentur (acaranya)" tutur Yogi Swara selaku panitia acara tersebut. Selain untuk memperingati Hari Teater Dunia, Yogi Swara menambahkan, bahwa acara ini dilaksanakan juga untuk menjalin silaturahmi antara teater-teater di seluruh Indonesia.

Perayaan yang mengangkut tema Membaca Milenial ini akan ditampilkan oleh puluhan kelompok teater di Indonesia, diantaranya kelompok teater dari Surabaya, Wonosobo, Lamongan, Surakarta, Jogjakarta, Kendal, Jakarta, Salatiga, dan Kepulauan Riau. Solo merupakan salah satu kota yang turut merayakan Hari Teater Dunia, “Acara ini di beberapa kota ada, tetapi ini solo juga selalu melaksanakan” jelas Yogi, Jumat (12/4/2019). Selain itu, yang menjadikan acara ini lebih menarik yaitu partisipasi dari negara lain seperti Malaysia dan Singapura yang terdiri dari empat kelompok, diantaranya yaitu Sekutu Ghuraba (Malaysia), Mawar Zainal Ariffin, Tepak Tellaz (Malaysia), Teater Singa Muntah (Singapura), dan Teater FiTa (Malaysia). “Acara ini tidak selalu dihadiri oleh kelompok teater dari luar negeri, tetapi tahun ini kebetulan banyak” tambahnya.

Selain teater, terdapat sajian menarik lainnya diantaranya yaitu lomba baca puisi, lomba pantomime, dan whorkshop keaktoran dan penyutradaraan. Untuk lomba baca puisi sendiri diperuntukkan siswa tingkat SMA/SMK sederajat se-Solo Raya yang dilaksanakan pada tanggal 14 April 2019 dan bertempat di Rumah Banjarsari. Sedangkan lomba pantomime diperuntukkan siswa tingkat Sekolah Dasar se-Solo Raya yang dilaksanakan pada tanggal 14 April 2019 yang bertempat di Rumah Banjarsari. Adapun workshop keaktoran dan penyutradaraan akan dilaksanakan pada tanggal 21 dan 22 April 2019 yang bertempat di Teater Arena Gedung Moertidjono Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta dengan peserta terbatas 50 orang. Acara ini tidak dipungut biaya sama sekali alias gratis, dan pemenang akan mendapatkan piala, uang pembinaan, dan sertifikat.

Saat ditanya mengenai harapan untuk perayaan ini dan acara selanjurnya, “Semoga silaturahmi antar teater di Indonesia dan dunia semakin terjalin”, pungkas Yogi.