REGROUPING MENJADI SOLUSI UNTUK MENGEFISIENKAN TENAGA PENDIDIKAN
Pendidikan selalu
menjadi harapan utama bagi orang tua untuk anak-anaknya. Semua orang tentu
memiliki mimpi untuk meraih cita-citanya yang dimulai dengan pendidikan dasar
hingga perguruan tinggi. Pendidikan di Indonesia memang menjadi prioritas yang
penting guna membentuk generasi penerus bangsa yang cerdas dan berkarakter. Salah
satu wadah untuk membentuk generasi yang cerdas dan berkarakter adalah sekolah
atau pendidikan formal. Tak hanya pendidikan formal, jalur pendidikan yang
dapat dilalui untuk mengembangkan potensi diri ada pendidikan nonformal dan
pendidikan informal. Pendidikan nonformal terdapat pada usia dini atau
pendidikan dasar seperti TPA, tempat kursus, bimbingan belajar, dan sebagainya.
Sedangkan pendidikan informal merupakan jalur pendidikan dari keluarga dan
lingkungan.
Pendidikan di
Indonesia dapat dikatakan belum cukup maju. Untuk memajukan pendidikan di
Indonesia tentu bukan hanya menjadi tugas guru saja, namun peserta didik juga
harus sadar akan pentingnya pendidikan. Peserta didik harus mampu dan mau
memahami pelajaran yang diberi, bukan menjadikannya keterpaksaan dan tuntutan
untuk menuntaskan pendidikan saja. Mereka harus sadar akan pentingnya dunia
pendidikan, karena pada saat ini
pendidikan di Indonesia masih berada di urutan bawah. Berdasarkan kutipan dari
Kompaisana, kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12
negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Indonesia memiliki
daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang
disurvei di dunia. Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia adalah
masalah efektivitas, efisiensi, dan standarisasi pengajaran.
Dampak dari rendahnya mutu pendidikan tersebut ialah penutupan sekolah, salah satunya yaitu di kecamatan Sukoharjo. Beberapa sekolah dasar di kecamatan Sukoharjo terpaksa harus ditutup atau digabungkan (regrouping) dengan sekolah lainnya. Penyebabnya, SD tersebut sedikit mendapatkan murid. Jarak yang terlalu berdekatan dengan sekolah lain pun juga menjadi salah satu penyebabnya. Penutupan sekolah ini dianggap lebih mengefisienkan tenaga pendidikan. Pada tahun 2019 kemarin, data sekolah dasar di kecamatan Sukoharjo yang mengalami penutupan ada tiga, diantaranya SD N Bulakrejo 4, SD N Banmati 3, dan SD N Dukuh 2. SD N Bulakrejo 4 lokasinya berada di belakang SD N Bulakrejo 1, SD N Banmati 3 berdekatan dengan SD N Banmati 1, dan SD N Dukuh 2 berada satu pekarangan dengan SD N Dukuh 1.
Guru dan murid
yang sekolahnya mengalami penutupan, dipindahkan di berbagai sekolah di sekitarnya.
Jadi, guru dan murid tidak terlalu terkena dampak buruk akibat penutupan itu. Penutupan
sekolah-sekolah negeri dapat dikaitkan dengan suksesnya KB yang dicanangkan
oleh pemerintah. Beberapa masyarakat telah menjalankan program pemerintah untuk
mengikuti KB, tak terkecuali masyarakat di kecamatan Sukoharjo. Dengan
suksesnya KB, jumlah angka lahir semakin menurun. Oleh karenanya, jumlah
peserta didik pun juga menurun terutama di sekolah negeri, sedangkan terdapat
banyak bangunan sekolah swasta yang mulai bermunculan. Sehingga di era yang modern
ini, orang tua lebih memilih mendaftarkan anak-anaknya di sekolah swasta yang
lebih memiliki mutu yang bagus.
Lalu bagaimana
dengan nasib sekolah-sekolah negeri di masa mendatang? Tentu saja tidak semua orang
tua memiliki kemampuan yang sama. Misalnya masyarakat di pedesaan, sekolah
negeri yang masih terjangkau biaya dan jaraknya akan tetap menjadi pilihan. Masyarakat
yang kurang mampu akan lebih memilih sekolah dengan biaya yang murah karena
yang terpenting anaknya mengenyam bangku pendidikan. Di Sukoharjo misalnya,
sekolah negeri bebas dari biaya SPP dan jarak yang dapat ditempuh dengan
berjalan kaki tetap menjadi pilihan bagi masyarakat kurang mampu. Hanya saja
sekolah negeri yang memiliki jarak yang sangat dekat dengan sekolah negeri
lainnya perlu ditindaklanjuti agar saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tidak
terjadi ketidakseimbangan yang drastis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar