Selasa, 14 Januari 2020


REGROUPING MENJADI SOLUSI UNTUK MENGEFISIENKAN TENAGA PENDIDIKAN



Pendidikan selalu menjadi harapan utama bagi orang tua untuk anak-anaknya. Semua orang tentu memiliki mimpi untuk meraih cita-citanya yang dimulai dengan pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Pendidikan di Indonesia memang menjadi prioritas yang penting guna membentuk generasi penerus bangsa yang cerdas dan berkarakter. Salah satu wadah untuk membentuk generasi yang cerdas dan berkarakter adalah sekolah atau pendidikan formal. Tak hanya pendidikan formal, jalur pendidikan yang dapat dilalui untuk mengembangkan potensi diri ada pendidikan nonformal dan pendidikan informal. Pendidikan nonformal terdapat pada usia dini atau pendidikan dasar seperti TPA, tempat kursus, bimbingan belajar, dan sebagainya. Sedangkan pendidikan informal merupakan jalur pendidikan dari keluarga dan lingkungan.

Pendidikan di Indonesia dapat dikatakan belum cukup maju. Untuk memajukan pendidikan di Indonesia tentu bukan hanya menjadi tugas guru saja, namun peserta didik juga harus sadar akan pentingnya pendidikan. Peserta didik harus mampu dan mau memahami pelajaran yang diberi, bukan menjadikannya keterpaksaan dan tuntutan untuk menuntaskan pendidikan saja. Mereka harus sadar akan pentingnya dunia pendidikan,  karena pada saat ini pendidikan di Indonesia masih berada di urutan bawah. Berdasarkan kutipan dari Kompaisana, kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia adalah masalah efektivitas, efisiensi, dan standarisasi pengajaran.

Dampak dari rendahnya mutu pendidikan tersebut ialah penutupan sekolah, salah satunya yaitu di kecamatan Sukoharjo. Beberapa sekolah dasar di kecamatan Sukoharjo terpaksa harus ditutup atau digabungkan (regrouping) dengan sekolah lainnya. Penyebabnya, SD tersebut sedikit mendapatkan murid. Jarak yang terlalu berdekatan dengan sekolah lain pun juga menjadi salah satu penyebabnya. Penutupan sekolah ini dianggap lebih mengefisienkan tenaga pendidikan. Pada tahun 2019 kemarin, data sekolah dasar di kecamatan Sukoharjo yang mengalami penutupan ada tiga, diantaranya SD N Bulakrejo 4, SD N Banmati 3, dan SD N Dukuh 2. SD N Bulakrejo 4 lokasinya berada di belakang SD N Bulakrejo 1, SD N Banmati 3 berdekatan dengan SD N Banmati 1, dan SD N Dukuh 2 berada satu pekarangan dengan SD N Dukuh 1.

Guru dan murid yang sekolahnya mengalami penutupan, dipindahkan di berbagai sekolah di sekitarnya. Jadi, guru dan murid tidak terlalu terkena dampak buruk akibat penutupan itu. Penutupan sekolah-sekolah negeri dapat dikaitkan dengan suksesnya KB yang dicanangkan oleh pemerintah. Beberapa masyarakat telah menjalankan program pemerintah untuk mengikuti KB, tak terkecuali masyarakat di kecamatan Sukoharjo. Dengan suksesnya KB, jumlah angka lahir semakin menurun. Oleh karenanya, jumlah peserta didik pun juga menurun terutama di sekolah negeri, sedangkan terdapat banyak bangunan sekolah swasta yang mulai bermunculan. Sehingga di era yang modern ini, orang tua lebih memilih mendaftarkan anak-anaknya di sekolah swasta yang lebih memiliki mutu yang bagus.

Lalu bagaimana dengan nasib sekolah-sekolah negeri di masa mendatang? Tentu saja tidak semua orang tua memiliki kemampuan yang sama. Misalnya masyarakat di pedesaan, sekolah negeri yang masih terjangkau biaya dan jaraknya akan tetap menjadi pilihan. Masyarakat yang kurang mampu akan lebih memilih sekolah dengan biaya yang murah karena yang terpenting anaknya mengenyam bangku pendidikan. Di Sukoharjo misalnya, sekolah negeri bebas dari biaya SPP dan jarak yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki tetap menjadi pilihan bagi masyarakat kurang mampu. Hanya saja sekolah negeri yang memiliki jarak yang sangat dekat dengan sekolah negeri lainnya perlu ditindaklanjuti agar saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tidak terjadi ketidakseimbangan yang drastis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar